Iklim & Lingkungan

Konservasi Bambu

Bank melalui kemitraan jangka panjang dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) dan sejumlah mitra strategis lainnya. Bank konsisten menjalankan inisiatif konservasi bambu yang telah berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun. Program ini berfokus pada penanaman beberapa varietas bambu unggulan, antara lain Bambu Hitam (Gigantochloa atroviolacea), Bambu Tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz), dan Bambu Betung (Dendrocalamus asper), yang dikembangkan di berbagai wilayah, meliputi Lombok (Nusa Tenggara Barat), Tabanan dan Gianyar (Bali), Flores (Nusa Tenggara Timur), Magelang (Jawa Tengah), serta merambah lokasi baru lainnya di Manggarai Raya (Nusa Tenggara Timur).

Bank bersama KEHATI di tahun 2025 telah melakukan penanaman sebanyak 55.500 bambu di Magelang (Jawa Tengah), Lombok (NTB), Manggarai Raya (NTT), dan Flores (NTT). Dengan demikian, sejak tahun 2012 Bank telah berhasil menanam sebanyak 115.400 bambu. Selain itu, Bank juga melakukan penanaman sebanyak lebih dari 6.000 tanaman ekonomis yang dapat dimanfaatkan dalam jangka pendek oleh masyarakat sekitar di wilayah Manggarai Raya dan Lombok.

Selain itu, Bank juga mulai mengembangkan desa eko-eduwisata di dua lokasi yang telah menjalankan program konservasi bambu, yaitu di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rarung, Lombok (NTB) dan Desa Wogo, Flores (NTT). Berbagai kegiatan yang memberikan dampak ekologis, ekonomi, dan sosial mulai dirasakan oleh masyarakat di kedua lokasi tersebut sehingga pengembangan desa eko-eduwisata menjadi salah satu peluang pengembangan yang muncul.

Desa eko-eduwisata memadukan tiga komponen penting, yaitu konservasi alam, pemberdayaan masyarakat lokal untuk meningkatkan ekonomi, serta peningkatan kesadaran lingkungan. Pendekatan ini ditujukan tidak hanya bagi para pengunjung, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat secara aktif. Konsep eko-eduwisata mendorong pembelajaran melalui interaksi langsung, pemahaman, dan penghargaan terhadap budaya serta adat istiadat desa wisata yang dikunjungi. Pemberdayaan masyarakat menjadi semangat utama dalam pengembangan desa wisata, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara akuntabel.

Selain itu, Bank rutin melakukan analisis potensi serapan karbon dari bambu yang ditanam secara berkala. Perhitungan pada tahun 2025 menunjukkan terdapat potensi serapan karbon dari bambu yang tertanam mencapai lebih dari 3.700 ton setara CO2, dengan akumulasi dari tahun 2019 mencapai lebih dari 15.000 ton setara CO2.

Pengelolaan Sampah Anorganik

Sebagai bagian dari komitmen terhadap pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, Bank mengintegrasikan pendekatan ekonomi sirkular melalui penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle) dalam berbagai aktivitas operasional dengan dukungan mitra pihak ketiga. Implementasi inisiatif ini diwujudkan melalui sejumlah program dan kegiatan, antara lain ABCDE Challenge, Workshop Experiential Learning, serta penerapan konsep Zero Waste to Landfill pada penyelenggaraan berbagai acara Bank. Selama tahun 2025, Bank berhasil mengelola 770 kg kartu debit/kredit tidak terpakai dan 78 kg sampah daur ulang.